π️ Dongeng Sebelum Tidur
π️ Oleh Dicki Lesmana
"Manusia modern terlalu sibuk mengejar esok, sampai lupa siapa dirinya hari ini."
Begitulah dongeng ini dimulai—bukan dari negeri ajaib,
tapi dari kamar sempit seorang pemuda yang tak bisa tidur.
Ia menatap layar ponsel yang tak kunjung mati,
berharap notifikasi bisa mengisi kekosongan dalam pikirannya.
Ia tidak dikejar monster. Ia dikejar ekspektasi.
Dahulu kala, anak-anak meminta dongeng tentang naga,
sekarang, orang dewasa mendongengkan dirinya sendiri:
bahwa besok akan lebih baik, bahwa kerja keras tak akan sia-sia,
meski kenyataan kadang lebih dingin dari bantal kapuk tua.
Apakah kita hidup untuk bahagia, atau hanya untuk bertahan?
Filsuf Yunani pernah berkata:
“Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang sia-sia.”
Tapi bagaimana bisa merenung,
jika setiap malam hanya ada tagihan yang tak dibayar,
deadline yang mendekat,
dan notifikasi yang tak pernah selesai?
π Dongeng Tanpa Akhir
Dalam dunia yang serba cepat,
manusia tak lagi tidur untuk beristirahat
mereka tidur untuk melupakan.
Melupakan hari yang gagal.
Melupakan janji pada diri sendiri.
Melupakan bahwa mereka pernah punya mimpi.
Dan di situlah dongeng ini berhenti.
Tanpa pangeran. Tanpa peri.
Hanya ada kamu, yang sedang membaca ini,
dan bertanya dalam hati:
“Apakah semua ini benar-benar layak di perjuangkan?”
π Penutup
Kadang, dongeng terbaik bukan yang berakhir bahagia,
tapi yang membuatmu berpikir lebih dalam sebelum memejamkan mata.
Karena tidur bukan pelarian.
Tidur adalah ruang suci di mana hati dan pikiran berdialog,
tanpa interupsi dari dunia yang bising.
✍️ — Dicki Lesmana
Penulis | Filsuf Modern | Suara dari Kamar Sunyi
Komentar
Posting Komentar